Deli Serdang Bidik Biomassa untuk Kemandirian Energi, Desa Didorong Jadi Pemain Utama Rantai Pasok

Daerah 23 Oct 2026 20:57 • 5 min read • 1 views • By Admin

Share berita ini

Deli Serdang Bidik Biomassa untuk Kemandirian Energi, Desa Didorong Jadi Pemain Utama Rantai Pasok
Limbah pertanian, perkebunan, dan industri di Kabupaten Deli Serdang didorong menjadi sumber energi terbarukan sekaligus peluang usaha baru bagi masyarakat desa. Melalui seminar dan FGD di Grha Bhineka Perkasa Jaya, Jumat (23/10/2026), pemerintah daerah bersama PLN EPI, akademisi, dan pemangku kepentingan membahas penguatan rantai pasok biomassa agar potensi lokal menghasilkan nilai tambah ekonomi dan mendukung kemandirian energi. (Foto: Diskominfostan Deli Serdang)

RAKYATBERSUARANEWS.ID | LUBUK PAKAM - Kabupaten Deli Serdang memiliki peluang mengubah limbah pertanian, perkebunan, dan industri menjadi sumber energi sekaligus penggerak ekonomi desa. Namun, potensi tersebut membutuhkan langkah nyata, mulai dari kepastian pasokan bahan baku, pembentukan rantai usaha, hingga kemitraan dengan industri agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.

Peluang itu menjadi pembahasan utama dalam Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) bertema "Optimalisasi Sumber Daya Alam di Desa Guna Mencapai Swasembada Energi" yang digelar di Grha Bhineka Perkasa Jaya, Jumat (23/10/2026).

Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan, menilai biomassa sebagai potensi sumber daya yang belum sepenuhnya mendapat perhatian. Menurutnya, pemanfaatan biomassa tidak hanya berkaitan dengan penyediaan energi terbarukan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan dan perekonomian masyarakat.

"Biomassa ini merupakan harta karun yang terkadang belum diperhatikan secara langsung oleh masyarakat. Padahal, potensinya besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus menyediakan energi terbarukan," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang berharap forum tersebut menjadi titik awal pengembangan biomassa yang lebih terarah, sekaligus mendorong lahirnya model pemanfaatan sumber daya lokal yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Limbah Pertanian hingga Perkebunan Jadi Sumber Ekonomi

Wakil Bupati Deli Serdang, Lom Lom Suwondo, memaparkan bahwa daerah itu memiliki potensi biomassa dari berbagai sektor, terutama pertanian, perkebunan, dan industri. Bahan baku yang dapat dikembangkan antara lain sekam padi, jerami, tongkol dan batang jagung, serta tandan kosong kelapa sawit.

Menurut Lom Lom, tantangan pengembangan biomassa bukan semata-mata terletak pada teknologi pengolahan, melainkan juga pada perubahan cara pandang terhadap sisa produksi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Yang perlu kita ubah bukan hanya cara mengolahnya, tetapi juga cara kita melihat sisa pertanian, perkebunan, dan industri. Bukan semata-mata sebagai limbah, tetapi sebagai sumber daya dan peluang usaha," katanya.

Ia menegaskan, potensi tersebut harus ditindaklanjuti melalui kolaborasi pemerintah daerah, BUMN, BUMD, perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah desa, kelompok tani, koperasi, BUMDes, dan masyarakat.

Kolaborasi itu diperlukan agar pemanfaatan biomassa tidak berhenti pada pengumpulan bahan baku, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat usaha di perdesaan.

Deli Serdang sendiri memiliki pengalaman pengembangan energi berbasis biomassa. Pembangkit listrik yang memanfaatkan kayu karet dari peremajaan kebun pernah dikembangkan di Desa Tanjung Selamat, Kecamatan Percut Sei Tuan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan untuk melihat peluang pengembangan biomassa secara lebih luas.

Desa Jangan Sekadar Pemasok Bahan Baku

Lom Lom menekankan bahwa pengembangan biomassa harus ditopang rantai pasok yang profesional dan berkelanjutan. Sistem tersebut mencakup keterlibatan petani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), koperasi, BUMDes, pengepul, pengolah, penguji kualitas, penyedia transportasi, hingga pembeli akhir.

Menurutnya, keberadaan rantai pasok yang tertata menjadi salah satu kunci untuk memastikan ketersediaan bahan baku sekaligus membuka ruang bagi masyarakat desa memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Ia berharap FGD tersebut menghasilkan tindak lanjut konkret dan terukur, antara lain penyusunan rencana pengembangan rantai pasok biomassa, identifikasi BUMDes dan koperasi yang siap menjadi pelaku usaha, penetapan titik pengumpulan biomassa di desa dan kecamatan, serta pembentukan kemitraan dengan calon pembeli.

"Desa jangan hanya menjadi penyedia bahan baku. Kita harus memastikan masyarakat desa juga memperoleh nilai tambah dari pengolahan dan pemanfaatan biomassa," tegasnya.

Pengembangan biomassa, lanjutnya, sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Deli Serdang untuk mewujudkan daerah yang sehat, cerdas, sejahtera, religius, dan berkelanjutan.

PLN EPI Buka Peluang Ekonomi dari Pasokan Biomassa

Komisaris Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Nikson Silalahi, menjelaskan bahwa biomassa dapat dimanfaatkan sebagai bahan pencampur atau pengganti sebagian batu bara dalam proses pembangkitan listrik.

Potensi limbah pertanian dan perkebunan di Deli Serdang, menurutnya, membuka peluang bagi petani, Gapoktan, koperasi, dan BUMDes untuk terlibat dalam rantai pasok energi. Keterlibatan tersebut berpotensi mengembangkan usaha produktif di desa sekaligus mendukung kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik.

PLN EPI berperan dalam memastikan ketersediaan energi primer bagi pembangkit, termasuk melalui pengembangan pasokan biomassa sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional dan target Net Zero Emission pada 2060.

Nikson menyebutkan, berdasarkan perhitungan yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, penyediaan 100.000 ton biomassa per tahun berpotensi melibatkan sekitar 1.000 orang dalam kegiatan ekonomi. Pemanfaatan biomassa pada skala itu juga disebut berpotensi mendukung pengurangan emisi karbon.

Meski demikian, realisasi peluang tersebut membutuhkan kesiapan pasokan, kualitas bahan baku, sistem pengangkutan, kepastian pembeli, serta kemitraan yang jelas antara PLN EPI, pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok tani, koperasi, dan pelaku usaha.

Dengan demikian, pengembangan biomassa tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan limbah. Sistem usaha yang mampu menjaga kesinambungan pasokan dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat juga menjadi faktor penting.

Akademisi dan Pemerintah Pusat Bahas Ekosistem Biomassa

Seminar dan FGD tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari sektor energi, perguruan tinggi, dan pemerintah pusat untuk membahas pengembangan biomassa dari berbagai perspektif.

Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI), Hokkop Situngkir, memaparkan potensi desa sebagai pilar kemandirian energi masa depan, khususnya dalam mendukung ketersediaan bahan baku biomassa.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Soni Sisbudi Harsono, membahas hilirisasi limbah biomassa menjadi produk energi terbarukan yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Sementara itu, Staf Khusus Menteri Desa Bidang Kebijakan Publik pada Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI, Andi Rahmah, menguraikan strategi dan kolaborasi desa dalam membangun ekosistem biomassa berkelanjutan, mulai dari optimalisasi potensi lokal hingga pembentukan rantai pasok energi nasional.

Aspek sosial budaya dan partisipasi masyarakat dibahas oleh Andrey Ikhsan Lubis, Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan pada kementerian terkait. Adapun Rizky Rahmawati Lubis, Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, memaparkan arah kebijakan pengembangan ekonomi desa untuk mendukung pemanfaatan potensi tersebut.

Melalui forum tersebut, Pemkab Deli Serdang berharap pengembangan biomassa dapat bergerak dari sebatas pemetaan potensi menuju program yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi sumber daya lokal benar-benar dapat dikonversi menjadi pasokan energi yang andal, peluang usaha yang berkesinambungan, serta peningkatan pendapatan masyarakat desa. Tanpa rantai pasok dan kemitraan yang jelas, potensi biomassa berisiko tidak memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat.

Sebaliknya, apabila dikelola dengan perencanaan matang dan pembagian manfaat yang jelas, biomassa dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi perdesaan di Kabupaten Deli Serdang.(SL) 

(DISKOMINFOSTAN DELI SERDANG)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Rakyat Bersuara News

Recent Articles

Popular Articles