Komnas PA Kritik Candaan Presiden kepada Siswi 10 Tahun di Sidang MPR: Anak Harus Jadi Inspirasi, Bukan Bahan Humor

Nasional 18 Aug 2026 18:07 3 min read 56 views By Admin

Share berita ini

Komnas PA Kritik Candaan Presiden kepada Siswi 10 Tahun di Sidang MPR: Anak Harus Jadi Inspirasi, Bukan Bahan Humor
Komnas PA Kritik Candaan Presiden kepada Siswi 10 Tahun di Sidang MPR: Anak Harus Jadi Inspirasi, Bukan Bahan Humor

RAKYAT BERSUARA NEWS | JAKARTA  - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti momen ketika Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Citra Nur Ramadhani, siswi Sekolah Rakyat berusia 10 tahun asal Pangkajene, Sulawesi Selatan, dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026.


Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyoroti momen ketika Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Citra Nur Ramadhani, siswi Sekolah Rakyat berusia 10 tahun asal Pangkajene, Sulawesi Selatan, dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat, 14 Agustus 2026.


Bagi Komnas PA, kehadiran Citra di panggung kenegaraan semestinya menjadi ruang untuk mengangkat kisah perjuangan dan prestasi seorang anak yang tumbuh dalam keterbatasan.


Citra disebut nyaris putus sekolah sejak kelas 4 SD. Ia membantu ibunya yang merupakan penyandang disabilitas berjualan kacang setelah sang ayah meninggal dunia.


Di tengah kondisi tersebut, Citra justru mampu menorehkan prestasi dengan meraih juara karate tingkat kabupaten.


Ketua Umum Komnas PA, Agustinus Sirait, mengatakan kisah Citra merupakan gambaran tentang daya juang anak Indonesia yang patut mendapat penghargaan.


"Ini bentuk pengakuan negara atas anak-anak yang berjuang di tengah keterbatasan. Kami mengapresiasi pemerintah yang menghadirkan anak seperti Citra lewat program Sekolah Rakyat," kata Agustinus melalui siaran pers yang diterima awak media, Selasa, 18 Agustus 2026.


Namun, Komnas PA menyayangkan adanya candaan Presiden mengenai kehidupan asmara Citra ketika ia diperkenalkan di hadapan pejabat negara dan tamu undangan.


Menurut Komnas PA, candaan tersebut kemudian disambut tawa dan tepuk tangan dari hadirin di ruang sidang.


Komnas PA Soroti Kepekaan terhadap Anak


Agustinus menilai persoalannya bukan semata-mata pada ada atau tidaknya niat baik di balik candaan tersebut. Yang menjadi perhatian, kata dia, adalah kepekaan ketika seorang anak berusia 10 tahun ditempatkan sebagai pusat perhatian dalam forum kenegaraan yang disaksikan publik secara luas.


"Seharusnya panggung itu digunakan sepenuhnya untuk mengangkat nilai kegigihan, tanggung jawab, dan prestasi seorang anak. Agar jadi inspirasi anak-anak lain di seluruh Indonesia," ujar Agustinus.


Menurut dia, anak harus tetap diposisikan sebagai subjek yang memiliki martabat, termasuk ketika tampil dalam forum dengan tingkat eksposur publik yang sangat tinggi.


"Menjadikan topik yang belum sesuai usia anak sebagai bahan candaan di ruang publik, apalagi disiarkan nasional, berisiko menormalisasi bahwa kehidupan pribadi anak adalah bahan pembicaraan," katanya.


Komnas PA menegaskan kritik tersebut tidak dimaksudkan untuk mempersoalkan niat baik pemerintah dalam memberikan ruang kepada Citra.


Sebaliknya, lembaga tersebut menilai momentum itu justru menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menentukan cara berkomunikasi ketika anak menjadi bagian dari sebuah agenda kenegaraan.


Minta Protokol Ramah Anak


Komnas PA meminta pemerintah, penyelenggara acara kenegaraan, pejabat publik, hingga media memiliki kepekaan yang lebih kuat ketika melibatkan anak dalam kegiatan resmi.


Menurut Agustinus, diperlukan protokol yang memastikan anak tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi juga diperlakukan sesuai usia dan kepentingan terbaik mereka. "Harus ada kepekaan dan protokol yang jelas saat menghadirkan anak di forum resmi. Fokus pada capaian dan kisah mereka, dengan pendampingan komunikasi yang ramah anak," ujar Agustinus.


Komnas PA menyatakan terbuka untuk berdiskusi dan memberikan masukan kepada instansi terkait dalam penyusunan panduan interaksi ramah anak, khususnya dalam forum-forum kenegaraan. Bagi Komnas PA, kisah Citra semestinya berhenti pada satu pesan sederhana: keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.


Prestasinya di bidang karate, perjuangannya membantu keluarga, dan keberhasilannya tetap bersekolah justru jauh lebih layak menjadi pesan utama yang dibawa dari ruang sidang negara kepada jutaan anak Indonesia.


"Melindungi anak adalah tugas kita semua," pungkas Agustinus. (SL)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Rakyat Bersuara News

Recent Articles

Popular Articles